Mbah Arjo Penjual Bubur Depan Rumah

Mbah Arjo : Potret Rakyat Kecil Penjual Bubur

"potret rakyat kecil"Setiap orang butuh makan khususnnya sarapan pagi, karena dengan sarapan kata orang akan menambah kekuatan untuk kita beraktifitas sehari-hari. Walaupun banyak diantara kita yang jarang sarapan pagi, apalagi mahasiswa yang berkantung tipis (uangnya ditabung untuk persiapan beli buku, wisuda, cari kerja dan nikah besok) banyak yang memilih untuk tidak sarapan (pengalaman tempo dulu).

Ada seorang ibu-ibu yang sudah cukup renta yang selalu stanby menunggu masyarakat di sekitar rumah yang ingin sarapan namun tidak perlu repot memasak. Kami semua menyebutnya mbah Arjo, entah namanya Arjo apa bukan. Pekerjaan penjual bubur hangat ini telah ditekuninya mulai dari ketika masih muda, cuma ga tahu juga mudanya kapan wong saya pendatang. Dan sampai udah berumur sekitar 78 th an masih juga eksis untuk menjual bubur ya sebuah Potret Rakyat Kecil Penjual Bubur.

Sebenarnya kasihan juga disaat teman-temannya yang seumuran segitu dalam masa tuanya dihabiskan untuk menikmati sisa umur dengan istirahat dari pekerjaan, seorang mbah Arjo ini harus tetap bekerja untuk menyambung hidup. Ya begitulah kehidupan disaat orang lain menanjak hidupnya dari yang dulu susah dagang Koran, sekarang udah sukses jadi pengusaha, ada yang dulu punya punya banyak kebun dan jadi juragan, sekarang malah jadi gembel dijalanan. Dan sosok mbak Arjo ini menurut cerita ibu saya tetap sebagai sosok yang seperti ini dari dulunya. Subhanallah……

Tentu jasa mbah Arjo ini buat masyarakat disekitar tentu sangat luar biasa banyaknya

"sepiring nasi"Mungkin diantara temen-temen semua sulit mendapatkan sepiring nasi seperti ini diharga 1000, namun disini hal itu masih disediakan mbah Arjo. Gimana ga berjasa coba? Berarti tenaganya ga dihargai dengan uang bukan kalau untuk membeli bahan baku saja sekarang harganya sangat mahal. Dan setiap ditanya kenapa tidak menaikan harga hanya dijawab

“Kajenge sik penting kulo mboten tombok mawon, kulo pun seneng ngoteniki” (gak apa-apa yang penting saya tidak rugi, saya sudah bahagia dengan begini)

Sebuah perbuatan sangat terpuji bukan? Apakah diantara kita masih ada yang berfikir begini?

Sebuah pelajaran hidup bagi saya pribadi bahwa bahwa sesuatu tidak harus diukur dengan uang, kebahagian itu penting adanya. Kalaupun kita banyak uang namun malah pusing akibat dikejar-kejar perasaan bersalah karena asal muasalnya ga jelas, mungkin yang disampaikan mbah Arjo ini adalah jawabannya. Hidup secara materi mungkin tidak meningkat, namun tetap bahagia karena kesahajaannya.

Semoga bermanfaat…….

Mari kita sarapan dulu, untuk bekal kita beraktifitas dipagi ini.

17 Responses

  1. alamendah 5 years ago
    • mas-tony 5 years ago
  2. aming 5 years ago
    • mas-tony 5 years ago
  3. arif 5 years ago
    • mas-tony 5 years ago
  4. Guusn 5 years ago
    • mas-tony 5 years ago
  5. adin 5 years ago
    • mas tony 5 years ago
  6. Danu Akbar 5 years ago
  7. dHaNy 5 years ago
  8. tomi 5 years ago
    • mas tony 5 years ago
  9. Abdul Hakim 5 years ago
    • mas tony 5 years ago
  10. Andi Sakab 5 years ago

Add Comment

Anti-Spam Quiz: