Nasihat Hidup Orang Jawa | Review Buku

Kali ini saya akan mereview salah satu buku yang saya beli di JEC, saya sempat mencari-cari buku ini sebagai bahan tambahan referensi dari 2 postingan yang terdahulu yaitu Nasihat Yang Baik dan Nasihat Yang Baik 2. Akhirnya  tidak sengaja saya dapatkan juga di Pameran.

Sebagaimana tertera dalam Cover, Buku ini di tulis oleh Iman Budi Santosa dan diterbitkan oleh Diva Press Yogyakarta dan sudah memasuki Cetakan ke II Juni 2010.

Isi buku ini kurang lebih membahas norma-norma yang melekat dalam kehidupan sehari masyarakat Jawa, dimana di dalam khazanah kehidupan kebudayaan Jawa tersimpan ribuan peribahasa, pepatah peitih yang tetap diamalkan dan memberikan warna khusus bagi dinamika masyarakat Jawa hingga kini. Banyak kekuatan nilai pesan yang terkandung dalam peribahasa tradisional yang masih relevan sebagai landasan sikap dan perilaku serta pembentukan budi pekerti di era modern dan global sekarang ini.

Orang jawa dikenal sebagai kelompok yang memiliki kekayaan filsafah hidup dan unggah-ungguh yang sangat luas, sarat dengan peribahasa, langgam, dan konotasi. Karenanya dalam buku ini disajikan secara gamblang beserta penafsiran peribahasa, nasihat-nasihat  hidup yang selama ini ada seperti  “ojo ngomong waton, nanging ngomongo nganggo waton” (jangan asal bicara, tetapi bicaralah dengan alasan yang jelas), “aja rumangsa bisa nanging bisaa rumangsa” (jangan merasa bisa, tapi bisalah merasa atau menggunakan perasaan) dan masih banyak yang lain yang disertai dengan penafsirannya.

Saya berikan satu contoh secara lengkap peribahasa dan penafsirannya

Cilik diitik-itik, bareng Gedhe dipasang benik

Artinya cilik diitik-itik (ketika kecil, dipasangi lubang kancing, bareng gedhe dipasang benik (setelah besar dipasang kancing baju). Terjemahan bebasnya sewaktu kecil dibuatkan lubang kancing, namun setelah besar dipasangi kancing baju. Peribahasa tersebut merupakan kiasan mengenai hubungan orang tua dengan anak perempuannya. Manakala kecil si anak disayang, dipelihara dengan baik, setelah besar dan menikah akhirnya dibawa orang (suaminya).  Ini seolah olah orang tua sudah tidak punya tanggung jawab ketika seorang anak menikah. Namun peribahasa ini juga mengingatkan bahwa jangan sampai seorang anak perempuan benar-benar “meninggalkan” orang tua meskipun telah bersuami, sebab bagaimanapun hubungan orang tua dengan anak adalah hubungan darah dan tidak bisa terputus sampai kapanpun. Ini akan menjadi tolok ukur seberapa besarnya hubungan kasih sayang antar anak dan orang tuanya yang telah melahirkan dan membesarkannya.

Buku ini baik untuk bahan bacaan kita semua untuk mengingatkan tingkah laku kita semua mengenai hal-hal baik dan buruk yang dikemas dalam peribahasa jawa yang syarat makna.

Semoga bermanfaat dan Insya Allah akan saya sampaikan per peribahasa diwaktu mendatang untuk menambah wawasan tentang budaya Jawa.