Nasehat yang baik (2)

Nasehat yang baik (2) I Piwulang

Menyambung postingan sebelumnya tentang nasehat yang baik, kali ini saya akan menyampaikan kelanjutannya. Tulisan ini saya dapatkan dari selembar brosur yang dikeluarkan Pemerintah Provinsi DIY dalam rangka penyelenggaraan pemerintahan yang baik, transparan dan akuntabel. Apalagi dikaitkan dengan dengan fenomena “Gayus” yang sekarang ini terjadi, mudah mudahan bermanfaat.

Sinom

Amenangi jaman edan, ewuh aya ing pambudi, melu edan nora tahan, yen tan melu anglakoni boya keduman melik kaliren wekasanipun, dilalah kersa Allah begja-begjane kang lali luwih begja kang eling lan waspada (Serat Kalatidha)

Yang artinya kurang lebih :
Mengalami masa yang gila menyebabkan serba sulit dalam pemikiran, akan ikut berbuat gila tidak tahan, tapi kalo tidak ikut gila tidak mendapat bagian, sehingga akhirnya kelaparan, namun atas kehendak Allah SWT sebahagia-bahagianya orang lupa, masih lebih bahagia orang yang sadar dan waspada.

Mijil

Gegarane guna lawan sekti, kudu andhap asor, wani ngalah luhur wekasane, tumungkula yen dipundukani, bapang densimpangi ana catur mungkur.

Artinya syarat menjadi orang pandai dan bijak, harus sopan santun dan rendah hati, berani mengalah, mulia akhirnya, sabarlah jika kena marah, hindari rintangan dan pergunjingan.

Gambuh

Sabarang tindak tanduk, tumindake lan sakadaripun den-ngaksama kasisipaning sesame, sumimpanga ing laku dur, hardening budi kang ngrodon (Serat Wehdatama)

Artinya semua tingkah laku harus tidak sembarangan dan tergesa-gesa, bertindaklah dengan wajar, murah member maaf kepada sesame, jauhilah perbuatan jahat, sebab kejahatan itu pancaran hawa nafsu

Silahkan resapi dalam-dalam, semoga memberi manfaat dan nasehat pada kita semua untuk selalu berbuat baik.