penghargaan pada anak

 kehidupan

Penghargaan pada anak

Secara Umum

Menurut Wikipedia Penghargaan ialah sesuatu yang diberikan pada perorangan atau kelompok jika mereka melakukan suatu keulungan di bidang tertentu. Penghargaan biasanya diberikan dalam bentuk medali, piala, gelar, sertifikat, plaket atau pita. Suatu penghargaan kadang-kadang disertai dengan pemberian hadiah berupa uang seperti Hadiah Nobel untuk kontribusi terhadap masyarakat, dan Hadiah Pulitzer untuk penghargaan bidang literatur. Penghargaan bisa juga diberikan oleh masyarakat karena pencapaian seseorang tanpa hadiah apa-apa.

Lalu  bagaimana dengan penghargaan pada anak ?

Anak merupakan amanah yang diberikan Allah kepada kita  para orangtua, dan wajib dijaga amanah tersebut. Namun kenyataan bahwa banyak yang salah dalam menerapkan metode pendidikan yang salah kepada anak kita.

Sedikit Cerita

Ketika sikecil beranjak 3 tahun ini, ada sesuatu yang berubah dalam kebiasaannya, apalagi kalo bukan minta ini minta itu ketika ada di toko, atau ketika bapak ibunya pulang sering di menggeledah isi tas untuk sekedar mengetahui apakah bapak ibunya bawa oleh oleh atau tidak.

Secara tidak kita sadari ketika si anak nangis untuk meminta sesuatu, kita berucap mengenai penghargaan apabila anak tidak menangis, semisal “ cup cup jangan nangis ya, nanti akan ibu bapak belikan maenan”

Pendidikan anak dengan metode pemberian penghargaan dan hukuman banyak disepelehkan oleh para pendidik, karena sudah begitu biasa dilakukan. Sehingga kententuan dan aturan yang ada pun dilupakan bahkan banyak yang tidak menyadari kalau hal yang dianggap sepele itu memiliki aturan. Padahal, kekeliriun pada saat menerapkan metode pendidikan ini, bisa berakibat fatal sehingga merusak kepribadian anak yang sebelumnya sudah terbentuk dengan baik (lukman bin mas’a)

Sebagai contoh lagi sebuah kesalahan yang saya lakukan sendiri beberapa waktu lalu, saya secara tidak sadar telah memberikan penghargaan kepada anak saya karena bisa membaca bacaan do’a belajar dengan memberinya ”permen” dan akhirnya apa yang saya berikan tersebut menjadi titik awal anak saya menjadi terbiasa dan suka makan permen, sehingga selalu sulit untuk menghentikannya, yang secara kesehatan tentu tidak baik untuk anak se umurnya.

Seharusnyalah dalam memberikan penghargaan pada anak, banyak pertimbangan yang harus diperhatikan.

Berikut Prinsip-Prinsip Pemberian Penghargaan pada anak menurut Lukman Bin Mas’a dalam situs : http://www.pku-dewandakwah.com

Pertama, penilaian didasarkan pada ’perilaku’ bukan ’pelaku’. Untuk membedakan antara ’pelaku’ dan ’perilaku’ memang masih sulit, terutama bagi yang belum terbiasa. Apalagi kebiasaan dan presepsi yang tertanam kuat dalam pola pikir kita yang sering menyamakan kedua hal tersebut. Istilah atau panggilan semacam ’anak shaleh’, anak pintar’ yang menunjukkan sifat ’pelaku’ tidak dijadikan alasan peberian penghargaan karena akan menimbulkan persepsi bahwa predikat ’anak shaleh’ bisa ada dan bisa hilang. Tetapi harus menyebutkan secara langsung perilaku anak yang membuatnya memperoleh hadiah. Jadi komentar seperti ”Kamu dikasih hadiah karena sebulan ini kamu benar-benar jadi anak shaleh”, harus dirubah menjadi ”Kamu diberi hadiah bulan ini karena kerajinan kamu dalam melaksanakan shalat wajib”.

Kedua, pemberian penghargaan atau hadiah harus ada batasnya. Pemberian hadiah tidak bisa menjadi metode yang dipergunakan selamanya. Proses ini cukup difungsikan hingga tahapan penumbuhan kebiasaan saja. Manakala proses pembiasaan dirasa telah cukup, maka pemberian hadiah harus diakhiri. Maka hal terpenting yang harus dilakukan adalah memberikan pengertian sedini mungkin kepada anak tentang pembatasan ini.

Ketiga, penghargaan berupa perhatian. Alternatif bentuk hadiah yang terbaik bukanlah berupa materi, tetapi berupa perhatian baik verbal maupun fisik. Perhatian verbal bisa berupa komentar-komentar pujian, seperti, ’Subhanallah’, Alhamdulillah’, indah sekali gambarmu’. Sementara hadiah perhatian fisik bisa berupa pelukan, atau acungan jempol.

Keempat, dimusyawarahkan kesepakatannya. Persepsi umum para orang dewasa, kerap menyepelekan dan menganggap konyol celotehan anak. Bahwa anak suka bicara ceplas-ceplos dan mementingkan diri sendiri memanglah benar, tetapi itu bisa diatasi dengan beberapa kiat tertentu. Setiap anak yang ditanya tentang hadiah yang dinginkan, sudah barang tentu akan menyebutkan barang-barang yang ia sukai. Maka disinilah ditunutut kepandaian dan kesabaran seorang guru atau orang tua untuk mendialogkan dan memberi pengertian secara detail sesuai tahapan kemamuan berpikir anak, bahwa tidak semua keinginan kita dapat terpenuhi.

Kelima, distandarkan pada proses, bukan hasil. Banyak orang lupa, bahwa proses jauh lebih penting daripada hasil. Proses pembelajaran, yaitu usaha yang dilakukan anak, adalah merupakan lahan perjuangan yang sebenarnya. Sedangkan hasil yang akan diperoleh nanti tidak bisa dijadikan patokan keberhasilannya. Orang yang cenderung lebih mengutramakan hasil tidak terlalu mempermasalahkan apakah proses pencapaian hasil tersebut dilakukan secara benar atau salah, halal atau haram.

Semoga bermanfaat, apabila ada yang menambahkan silahkan

Author: 

29 Responses

  1. salesman jogja20/12/2010 at 9:48 AMReply

    Tulisannya mantap Bos..bisa untuk inspirasi kita kita semua

    • Author

      mas tony20/12/2010 at 10:02 AMReply

      sebagai koreksi atas diri saya sendiri… makasih kunjungannya

      • eser20/12/2010 at 10:28 PMReply

        dan sebagai referensi bagi saya yang sebentar lagi akan mempunyai seorang anak…

        • Author

          mas tony22/12/2010 at 8:51 AMReply

          ikut mendo’akan bro semoga semuanya selamat n lancar, rejekinya nambah terus….

  2. joe20/12/2010 at 9:56 AMReply

    penghargaan tentu bukan dinailai dari materinya tetapi pada apresiasi dan perhatiannya …

    • Author

      mas tony20/12/2010 at 10:04 AMReply

      justru itu lah mas, saya posting hal ini, saya sendiri melakukan kesalahan pada anak saya dengan memberi hadiah yang sebenarnya tidak pas dan berakibat tidak baik pada anak.

  3. andi sakab20/12/2010 at 11:40 AMReply

    saya rasa saya belum mampu menambahkan :D

    artikel bagus mas. :)

    • Author

      mas tony20/12/2010 at 12:46 PMReply

      sukses juga buat new blog nya….

  4. luthfie fadhillah20/12/2010 at 3:36 PMReply

    ane blom punya anak gan :D~

    :D

    ane doain biar anaknya agan … Bisa kaya babenya :D~

    • Author

      mas tony22/12/2010 at 8:53 AMReply

      tambahin do’anya mas, semoga lebih baik dari bapak ibunya…

  5. dyth20/12/2010 at 9:02 PMReply

    Ternyata, mendidik anak itu sulit, ya?! Ngasih hadiah permen yang meksud tujuannya baik, ternyata tetap saja salah. He he…. Itu tantangan dunia pendidikan, mas. Apalagi di era keterbukaan macam sekarang ini, siswa salah oleh gurunya dijewer dg tujuan pendidikan, terdengar wartawan, si guru masuk bui. Itu kenyataan, lho…..

    • Author

      mas tony22/12/2010 at 8:56 AMReply

      saya juga heran mas dengan pola keterbukaan ini, dulu waktu saya kecil ga bisa ngaji saya dipecut di telapak kaki saya dan itu jadi pembelajaran, kalo sekarang mungkin bisa jadi besok keluarganya diserang tuh yang memberi hukuman.

  6. Jimmy21/12/2010 at 7:41 AMReply

    kayanya penghargaan paling bagus adalah berupa pujian dan perhatian, bukan berupa barang ya..

    • Author

      mas tony22/12/2010 at 8:57 AMReply

      memang sebaiknya begitu…. saya terbukti salah memberikan penghargaan berupa barang

  7. Denuzz BURUNG HANTU21/12/2010 at 10:13 AMReply

    Belom punya anak nih. Ilmunya disimpen dulu ya, Kak. Nanti kalo Denuzz udah punya anak baru deh nerapin ilmu penghargaan thd anak ini. Hehe *kelamaan kaleee*

    Salam sayang dari BURUNG HANTU… Cuit… Cuit… Cuit…

    • Author

      mas tony22/12/2010 at 8:58 AMReply

      paling tidak bisa buat info masa depan mas!

  8. attayaya cathy21/12/2010 at 11:53 AMReply

    anak kecil itu bagaikan org dewasa juga
    org dewasa perlu penghargaan
    anak kecil juga begitu
    dan menningkatkan rasa percaya diri

    • Author

      mas tony22/12/2010 at 9:00 AMReply

      memang benar, namun seperti yang disampaikan mas Lukman diatas, perlu melihat bagaimana penghargaan itu diberikan

  9. Masbro22/12/2010 at 10:10 AMReply

    Saya pernah baca buku tipis, tentang tema yg serupa, tapi dilihat dari sudut religi. judulnya Tuhan Bukan Hanya Milik Orang Dewasa.
    Anak memang butuh dihargai, biar bisa belajar menghargai. Salam..

    • Author

      mas tony23/12/2010 at 12:18 PMReply

      iya mas, tapi jangan sampai penghargaan tersebut malah memberi efek negatif, salam kenal mas

  10. adi.m22/12/2010 at 3:35 PMReply

    pelajaran untuk bekal nanti nih :thumbup:

    • Author

      mas tony23/12/2010 at 12:19 PMReply

      siip…

  11. belajar dan berbagi informasi22/12/2010 at 9:05 PMReply

    Mantab Mas potingan, mengandung nilai edukasi. Terima kasih aspirasinya

    • Author

      mas tony23/12/2010 at 12:23 PMReply

      sip deh

  12. lozz akbar22/12/2010 at 10:36 PMReply

    Wah bisa jadi referensi saya nanti saat punya anak nih Mas..

    sekarang mau nyari ibu :ngacir2 dulu ah

    • Author

      mas tony23/12/2010 at 12:20 PMReply

      jangan nyari yang maya lho, yang nyata aja, ntar ndak ngayal mulu…

  13. Devi Yudhistira04/01/2011 at 12:02 PMReply

    hiks…memang susah banget soal ‘perhargaan’ ini….

    karena pola asuh jaman dulu sama sekarang sangat berbeda.

  14. Muskelaufbau07/09/2011 at 12:32 AMReply

    Sites we Like……

    [...] Every once in a while we choose blogs that we read. Listed below are the latest sites that we choose [...]……

  15. Bodybuilding08/09/2011 at 1:47 AMReply

    Blogs ou should be reading…

    [...]Here is a Great Blog You Might Find Interesting that we Encourage You[...]……

Leave a Reply

Anti-Spam Quiz: